Pagi itu gudang baja belum sepenuhnya terbangun dari sunyi ketika nama Tanjung Pinang disebut untuk pertama kalinya. Di antara deretan wiremesh yang tersusun rapi, tujuan itu terasa berbeda—lebih jauh, lebih menantang. Bukan sekadar pengiriman material, tapi perjalanan panjang yang melibatkan darat, laut, dan banyak tangan yang bekerja dalam diam. Setiap lembar wiremesh seolah membawa tanggung jawab sendiri, bukan hanya sebagai besi, tetapi sebagai penopang masa depan sebuah bangunan.
Bagi orang luar, wiremesh mungkin hanya anyaman baja tanpa cerita. Namun bagi kami yang mengurusnya sejak dari gudang, setiap pesanan selalu punya kisah. Ada jadwal yang harus dijaga, ada spesifikasi yang tidak boleh meleset, dan ada kota tujuan yang menunggu. Ketika truk mulai bergerak menuju pelabuhan, aku tahu perjalanan ini akan menjadi salah satu cerita yang akan diingat—tentang besi yang harus sampai, apa pun tantangannya.
Pagi itu, gudang baja masih setengah menguap oleh embun ketika namaku dipanggil dari balik tumpukan wiremesh. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi suara gesekan besi dan denting rantai sudah lebih dulu memecah sepi. Hari itu bukan pengiriman biasa. Tujuannya jauh: Tanjung Pinang.
Pesanan datang tiga hari sebelumnya. Wiremesh lembaran M6 dan M8, jumlahnya tidak sedikit. Proyeknya katanya untuk pembangunan area komersial dekat pelabuhan. Aku sudah sering ikut pengiriman ke berbagai kota—Surabaya, Balikpapan, Makassar—tapi setiap kali dengar nama kota di seberang laut, rasanya selalu beda. Ada rasa tegang, tapi juga bangga. Tidak semua besi dari gudang ini bisa sampai sejauh itu.
Kami mulai dari hal paling dasar: memastikan spesifikasi. Ukuran 2,1 x 5,4 meter, ikatan rapi, tidak ada kawat bengkok. Di proyek besar, satu lembar wiremesh yang cacat bisa bikin masalah panjang. Aku dan dua rekan lain mengecek ulang, lembar demi lembar, sambil mencocokkan dengan surat jalan. Berat totalnya lumayan, cukup untuk bikin truk sedikit “duduk” di bagian belakang.
Truk berangkat menjelang siang. Dari gudang menuju pelabuhan, perjalanan darat terasa biasa saja—panas, macet, klakson saling sahut. Tapi begitu gerbang pelabuhan terlihat, suasana berubah. Bau laut mulai terasa, angin asin menerpa wajah, dan deretan kontainer seperti tembok raksasa menyambut kami. Wiremesh yang tadi terasa seperti besi mati, mendadak terasa punya tujuan hidup sendiri.
Proses bongkar-muat ke kapal selalu jadi bagian paling menegangkan. Bukan karena beratnya saja, tapi karena laut tidak pernah bisa ditebak. Kami harus memastikan wiremesh diikat kuat, dilapisi pelindung agar tidak terkena air laut. Baja memang kuat, tapi air asin itu licik—kalau dibiarkan, karat bisa mulai bekerja diam-diam.
Saat crane pelabuhan mulai mengangkat wiremesh ke dalam kapal, aku refleks menahan napas. Setiap ayunan terasa lambat, seolah waktu ikut menggantung bersama besi-besi itu. Begitu wiremesh terakhir masuk ke palka dan pintu ditutup, barulah aku menghela napas panjang. Tahap pertama selesai.
Kapal berangkat sore hari. Dari dek, aku melihat garis kota perlahan menjauh. Laut terbentang luas, berkilau diterpa matahari senja. Di momen seperti itu, aku sering berpikir: betapa anehnya pekerjaanku. Aku tidak membangun gedung secara langsung, tidak mencor beton, tidak memasang kolom. Tapi tanpa wiremesh yang kami kirim, bangunan itu tidak akan pernah berdiri kokoh.
Hari pertama di laut berjalan tenang. Ombak bersahabat, langit cerah. Malamnya, aku duduk di dek sambil minum kopi sachet, mendengarkan cerita kru kapal. Ada yang sudah puluhan tahun bolak-balik rute ini, ada juga yang baru pertama kali. Mereka bicara soal badai, soal pelabuhan kecil, soal kota-kota yang namanya jarang muncul di peta besar. Tanjung Pinang disebut beberapa kali, katanya kota itu tenang, tapi proyeknya mulai ramai.
Hari kedua, laut mulai menunjukkan watak aslinya. Ombak meninggi, kapal bergoyang lebih keras. Aku terbangun dini hari karena suara besi di palka yang berderak, bukan lepas, tapi cukup membuat jantung berdetak lebih cepat. Kami turun memeriksa ikatan. Syukurlah semuanya aman. Wiremesh tetap rapi, tidak bergeser. Di situ aku sadar, ketelitian saat pengemasan kemarin bukan sekadar prosedur—itu penentu keselamatan.
Menjelang hari ketiga, garis daratan mulai terlihat. Pulau-pulau kecil muncul seperti titik-titik hijau di kejauhan. Udara berubah, terasa lebih lembap, lebih hangat. Kapal melambat, masuk ke jalur pelabuhan Tanjung Pinang. Dari kejauhan, terlihat aktivitas bongkar muat yang tidak terlalu ramai, tapi teratur.
Saat kapal bersandar, rasa lelah langsung terbayar. Kami turun bersama, mengawasi proses pembongkaran. Crane kembali bekerja, mengangkat wiremesh satu per satu. Kali ini, rasa tegang bercampur lega. Besi-besi itu akhirnya sampai di tujuan.
Seorang pria setengah baya menghampiri kami. Helm proyeknya sedikit kusam, tapi senyumnya ramah. “Ini wiremesh dari Jawa, ya?” tanyanya. Aku mengangguk. Ia menepuk salah satu bundel wiremesh. “Kami nunggu ini. Kalau telat, pekerjaan ikut mundur.”
Kalimat itu sederhana, tapi menohok. Di situ aku benar-benar merasa, pengiriman ini bukan cuma soal logistik. Ada jadwal tukang, ada target proyek, ada orang-orang yang menggantungkan pekerjaannya pada besi-besi ini.
Kami ikut sampai ke lokasi proyek. Truk berjalan menyusuri jalan kota yang tidak terlalu ramai. Bangunan-bangunan rendah, angin laut masih terasa. Di lokasi, para pekerja sudah siap. Wiremesh diturunkan, ditata rapi di sisi area cor yang sedang dipersiapkan. Beberapa tukang langsung mengecek ukuran, memastikan sesuai pesanan.
Sore itu, aku berdiri sejenak, memandang wiremesh yang kini terbaring di tanah Tanjung Pinang. Tidak lama lagi, besi-besi itu akan disusun, diikat, lalu tertutup beton. Mereka tidak akan terlihat lagi, tapi justru di sanalah peran terpentingnya—menahan, menguatkan, menopang.
Malam sebelum pulang, aku berjalan sebentar di tepi pelabuhan. Lampu-lampu kapal berpendar di air, angin laut membawa aroma asin yang khas. Aku tersenyum sendiri. Perjalanan panjang ini akhirnya selesai.
Besok aku akan kembali ke rutinitas: gudang, pesanan baru, mungkin kota lain. Tapi cerita tentang wiremesh yang menyeberang laut menuju Tanjung Pinang akan tetap tinggal. Cerita tentang besi, laut, dan bagaimana sesuatu yang tampak sederhana bisa punya perjalanan dan makna yang jauh lebih besar dari yang orang bayangkan.
Ketika wiremesh itu akhirnya tergeletak rapi di lokasi proyek Tanjung Pinang, rasa lelah selama perjalanan seakan luruh begitu saja. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada perayaan besar, hanya anggukan puas dan senyum singkat dari orang-orang yang tahu betul arti kedatangan material ini. Dalam waktu dekat, besi-besi itu akan menghilang di balik beton, tak terlihat lagi oleh mata, tapi justru di sanalah perannya menjadi paling penting.
Aku melangkah pergi dengan perasaan tenang. Pengiriman ini selesai, tugas kami tuntas. Mungkin besok akan ada pesanan lain, kota lain, dan cerita lain yang menunggu. Namun perjalanan wiremesh ke Tanjung Pinang akan selalu jadi pengingat bahwa di balik setiap bangunan yang berdiri kokoh, ada perjalanan panjang material dan manusia yang jarang diceritakan, tapi selalu menentukan.


Posting Komentar