Langit Surabaya masih gelap ketika suara mesin truk mulai terdengar dari halaman gudang Jayasteel. Jam baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Udara dingin bercampur aroma besi dan debu semen memenuhi area loading. Beberapa pekerja masih sibuk mengangkat lembaran wiremesh ke atas bak truk sambil sesekali berteriak memberi aba-aba.
“Pelan… pelan… geser kiri sedikit!”
Suara keras itu memecah sunyi malam.
Hari itu bukan pengiriman biasa. Dua proyek besar di Bali sedang menunggu material penting. Satu menuju Jembrana di bagian barat pulau, sementara satunya lagi harus dikirim sampai Karangasem yang berada di ujung timur Bali. Keduanya sama-sama membutuhkan wiremesh untuk pengerjaan proyek jalan dan bangunan.
Bagi sebagian orang, wiremesh mungkin terlihat seperti lembaran besi biasa. Namun bagi dunia konstruksi, material itu sangat penting. Keterlambatan pengiriman satu hari saja bisa membuat pengerjaan proyek berhenti total.
Itulah alasan suasana gudang malam itu terasa tegang.
Pak Roni, sopir senior yang sudah puluhan tahun mengirim material antar pulau, berdiri sambil memperhatikan muatan truknya. Wajahnya tenang, meski ia tahu perjalanan kali ini tidak mudah.
“Cuaca Bali lagi buruk,” kata seorang kernet sambil melihat ramalan hujan di ponselnya.
Pak Roni hanya tersenyum kecil.
“Namanya jalan proyek ya harus tetap jalan.”
Perjalanan Dimulai Sebelum Matahari Terbit
Sekitar pukul empat pagi, truk akhirnya keluar dari gudang. Lampu jalan masih menyala ketika kendaraan besar itu mulai melaju meninggalkan Surabaya menuju Pelabuhan Ketapang.
Jalanan masih cukup lengang. Sesekali terlihat truk lain membawa semen, besi beton, dan berbagai material bangunan menuju luar kota.
Di sepanjang perjalanan, Pak Roni terus menjaga ritme kendaraan. Muatan wiremesh sangat berat dan harus dijaga tetap stabil. Sedikit kesalahan saat menikung bisa berbahaya.
Matahari mulai muncul ketika mereka memasuki jalur pantura Jawa Timur. Cahaya oranye memantul di permukaan besi wiremesh yang tersusun rapi di belakang truk.
Kernet muda bernama Ardi terlihat sibuk mengecek tali pengikat.
“Masih aman, Pak.”
Pak Roni mengangguk.
“Kalau muatan begini, ikatan harus dicek terus.”
Mereka lalu berhenti sebentar di sebuah warung kopi pinggir jalan. Uap kopi hitam mengepul di udara pagi. Beberapa sopir truk lain tampak duduk sambil berbincang soal kondisi jalan dan antrean kapal penyeberangan.
Salah satu sopir berkata bahwa ombak sedang tinggi di Selat Bali.
Ardi mulai terlihat khawatir.
“Kalau kapal telat gimana, Pak?”
Pak Roni menyesap kopinya perlahan.
“Yang penting jangan panik. Di jalan itu banyak hal bisa berubah.”
Antrean Panjang di Pelabuhan Ketapang
Menjelang sore, mereka akhirnya tiba di Pelabuhan Ketapang. Namun suasana di sana jauh lebih padat dari biasanya.
Puluhan truk mengantre panjang menunggu giliran masuk kapal.
Hujan mulai turun perlahan.
Langit berubah gelap.
Suara klakson bercampur deru mesin kendaraan besar membuat suasana pelabuhan terasa melelahkan.
Ardi turun dari truk untuk mencari informasi.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan wajah kusut.
“Katanya kapal sempat tertunda karena cuaca.”
Pak Roni menghela napas panjang.
Kondisi seperti itu sebenarnya sudah biasa bagi sopir pengiriman antar pulau. Namun tetap saja, keterlambatan bisa mempengaruhi jadwal proyek di lokasi tujuan.
Malam mulai turun.
Hujan semakin deras.
Air mengalir di sela-sela ban truk yang berjejer panjang.
Di dalam kabin, Ardi mulai tertidur karena lelah. Sementara Pak Roni masih terjaga memperhatikan antrean kendaraan yang bergerak sangat lambat.
Sekitar pukul sebelas malam, akhirnya giliran mereka masuk ke kapal ferry.
Suara ombak terdengar keras menghantam badan kapal.
Angin laut bertiup dingin.
Pak Roni berdiri di dek sambil melihat lampu-lampu pelabuhan yang mulai menjauh.
Ia tahu perjalanan sebenarnya baru dimulai.
Jalur Barat Bali yang Sunyi dan Menegangkan
Setelah tiba di Gilimanuk, truk langsung bergerak menuju Jembrana.
Malam di jalur barat Bali terasa berbeda. Jalanan panjang, minim penerangan, dan di beberapa titik hanya terdengar suara serangga dari hutan sekitar.
Hujan masih turun.
Kabut mulai muncul di beberapa tanjakan.
Pak Roni memperlambat laju kendaraan.
Muatan wiremesh yang berat membuat truk harus benar-benar dijaga saat melewati tikungan tajam.
Ardi yang baru bangun mulai membantu memperhatikan kondisi jalan.
“Tanjakan depan licin, Pak.”
Pak Roni mengangguk pelan.
Sesekali mereka berpapasan dengan truk besar lain yang juga membawa material proyek. Lampu kendaraan terlihat samar di balik hujan dan kabut.
Sekitar pukul dua dini hari, mereka akhirnya tiba di lokasi proyek pertama di Jembrana.
Beberapa pekerja proyek ternyata masih terjaga menunggu kedatangan wiremesh.
Ketika truk masuk area proyek, seorang mandor langsung menghampiri.
“Syukurlah akhirnya datang juga.”
Nada suaranya terdengar lega.
Ternyata pengecoran jalan sudah dijadwalkan pagi hari. Jika wiremesh terlambat datang, seluruh jadwal pekerjaan bisa mundur.
Proses bongkar muatan dilakukan di tengah gerimis malam.
Lampu proyek menerangi tumpukan besi yang perlahan diturunkan dari bak truk.
Meski tubuh lelah, Pak Roni terlihat puas karena pengiriman pertama berhasil selesai tepat waktu.
Perjalanan Berat Menuju Karangasem
Banyak orang mengira perjalanan selesai setelah sampai Jembrana.
Padahal tantangan berikutnya jauh lebih berat.
Truk masih harus melanjutkan perjalanan menuju Karangasem di bagian timur Bali.
Artinya mereka harus melintasi hampir seluruh pulau.
Setelah istirahat singkat, perjalanan kembali dimulai saat subuh.
Langit Bali terlihat mendung.
Jalanan mulai ramai oleh kendaraan wisatawan dan aktivitas warga pagi hari.
Truk melaju melewati Denpasar, Gianyar, hingga mulai memasuki jalur menuju Karangasem yang terkenal memiliki banyak tanjakan dan tikungan panjang.
Di beberapa titik, hujan turun sangat deras.
Kabut gunung membuat jarak pandang menjadi pendek.
Ardi terlihat semakin tegang.
Ia terus memegang dashboard saat truk melewati tikungan sempit di pinggir jurang.
“Kalau hujan begini serem juga ya, Pak.”
Pak Roni tertawa kecil.
“Kalau takut di jalan proyek, gak bakal kuat jadi sopir material.”
Namun sebenarnya ia sendiri tetap waspada penuh.
Jalur Karangasem memang terkenal cukup menantang bagi kendaraan berat.
Terlebih ketika membawa muatan besi dengan tonase besar.
Drama Ban Bocor di Tengah Pegunungan
Masalah besar akhirnya datang ketika truk melewati jalur tanjakan panjang mendekati Karangasem.
Terdengar suara keras dari belakang.
“DUARRR!”
Ardi langsung kaget.
Pak Roni segera menepikan truk perlahan.
Hujan masih turun deras.
Ketika diperiksa, salah satu ban belakang ternyata pecah.
Situasi menjadi sulit karena posisi mereka berada di jalur menanjak dan cukup sepi.
Ardi mulai panik.
“Kalau gak cepat diganti bisa bahaya, Pak.”
Pak Roni tetap tenang meski wajahnya mulai serius.
Mereka lalu bekerja di tengah hujan mengganti ban cadangan.
Tangan penuh lumpur.
Baju basah total.
Sesekali kendaraan lain lewat dengan suara mesin berat memecah sunyi pegunungan.
Butuh hampir satu jam sampai ban akhirnya berhasil diganti.
Ardi duduk kelelahan di pinggir jalan sambil menarik napas panjang.
Pak Roni hanya menepuk pundaknya.
“Namanya juga perjalanan proyek.”
Wiremesh Tiba Tepat Waktu di Karangasem
Menjelang sore, mereka akhirnya tiba di lokasi proyek kedua di Karangasem.
Suasana proyek terlihat sibuk.
Alat berat bergerak di area pembangunan.
Beberapa pekerja langsung menghampiri ketika melihat truk masuk.
Mandor proyek tersenyum lega.
“Kami kira pengiriman bakal telat karena cuaca buruk.”
Pak Roni turun dari kabin sambil tersenyum tipis.
“Selama jalan masih bisa dilewati, material harus sampai.”
Wiremesh kemudian dibongkar perlahan menggunakan bantuan alat proyek.
Suara besi bergesekan terdengar memenuhi area pembangunan.
Meski tubuh terasa sangat lelah, ada rasa puas yang sulit dijelaskan ketika melihat material akhirnya tiba dengan aman.
Bagi sebagian orang, pengiriman material mungkin terlihat sederhana.
Namun di balik setiap truk yang datang ke proyek, ada perjalanan panjang, risiko di jalan, cuaca buruk, hingga perjuangan sopir yang jarang diketahui banyak orang.
Perjalanan yang Mengajarkan Banyak Hal
Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai, Pak Roni duduk di warung kecil dekat proyek Karangasem sambil menikmati kopi panas.
Hujan akhirnya reda.
Udara pegunungan terasa dingin.
Ardi duduk di sebelahnya sambil tertawa kecil mengingat kejadian ban pecah tadi siang.
“Kalau dipikir-pikir, perjalanan ini lumayan gila juga ya, Pak.”
Pak Roni tersenyum pelan.
“Begitulah dunia pengiriman material. Kadang orang cuma lihat barangnya sampai. Padahal di belakangnya ada banyak cerita.”
Ia lalu memandang truk yang parkir di pinggir jalan.
Lampu kendaraan itu masih menyala samar di tengah udara dingin Karangasem.
Wiremesh yang tadi pagi masih berada di Surabaya, kini sudah siap digunakan untuk pembangunan di Bali.
Dan besok, mungkin akan ada perjalanan panjang lain yang kembali menunggu.
Karena selama proyek terus berjalan, selama pembangunan terus berkembang, perjalanan material seperti ini tidak akan pernah benar-benar berhenti.
Pagi di Karangasem datang perlahan bersama kabut tipis yang turun dari perbukitan. Suara ayam terdengar samar dari rumah-rumah warga sekitar proyek. Setelah semalaman diguyur hujan, udara terasa dingin dan lembap.
Pak Roni terbangun lebih awal dibanding pekerja lainnya. Ia duduk di depan warung kecil sambil menikmati kopi hitam panas. Di depannya, truk besar yang membawa wiremesh kemarin masih terparkir dengan bekas lumpur di bagian roda belakang.
Ardi keluar sambil menguap panjang.
“Tidurnya nyenyak juga akhirnya.”
Pak Roni tertawa kecil.
“Kalau badan capek, tidur di kursi truk pun bisa pulas.”
Mereka mengira perjalanan kali ini sudah selesai. Wiremesh untuk proyek di Jembrana dan Karangasem sudah berhasil dikirim tepat waktu. Namun sekitar pukul tujuh pagi, ponsel Pak Roni tiba-tiba berdering.
Ia melihat layar sebentar lalu langsung mengangkat telepon.
Wajahnya yang tadinya santai perlahan berubah serius.
“Sekarang?”
Ardi mulai memperhatikan.
Suara dari seberang telepon terdengar cukup keras sampai samar-samar bisa didengar.
Ternyata ada proyek tambahan di daerah pesisir dekat Amed yang mendadak membutuhkan wiremesh tambahan untuk pengecoran akses jalan wisata.
Masalahnya, stok material di Bali kosong.
Sementara proyek harus berjalan hari itu juga.
Pak Roni mengusap wajahnya pelan.
“Berapa kebutuhan yang masih ada di truk?”
Setelah mendengar penjelasan dari pihak gudang, ada beberapa lembar wiremesh yang memang belum diturunkan. Rencana untuk sekalian kirim ke Gudang di Denpasar.
Jumlahnya tidak terlalu banyak, namun cukup untuk menyelamatkan pengecoran tahap awal proyek tersebut.
Ardi langsung bersandar lemas.
“Waduh… lanjut lagi, Pak?”
Pak Roni hanya tersenyum tipis.
“Namanya juga dunia proyek. Kadang rencana berubah sebelum kopi habis.”
Menuju Jalur Pesisir Timur Bali
Sekitar satu jam kemudian, truk kembali bergerak meninggalkan area proyek Karangasem. Kali ini perjalanan terasa berbeda.
Jalur menuju Amed terkenal sempit dengan banyak tikungan tajam yang menghadap langsung ke laut.
Di sisi kanan terlihat perbukitan kering khas Karangasem. Sementara di sisi kiri, lautan biru terbentang luas dengan ombak yang terlihat cukup besar pagi itu.
Meski pemandangannya indah, Pak Roni tetap fokus penuh mengendalikan kendaraan.
Beberapa bagian jalan terlihat rusak akibat hujan semalam.
Ardi membuka jendela sedikit.
Angin laut langsung masuk bercampur aroma asin khas pesisir.
“Kalau gak lagi bawa proyek, tempat begini enak buat liburan ya, Pak.”
Pak Roni tertawa kecil.
“Dulu saya juga mikir begitu. Tapi kalau tiap minggu lewat sini bawa muatan berat, yang ada malah hafal semua lubang jalannya.”
Mereka terus melaju perlahan melewati tanjakan demi tanjakan.
Sesekali terlihat wisatawan asing mengendarai motor sambil berhenti memotret laut.
Namun suasana santai itu tidak berlangsung lama.
Longsor Kecil Menutup Jalan
Sekitar tiga puluh menit sebelum lokasi proyek, antrean kendaraan mendadak berhenti total.
Pak Roni langsung mengerutkan dahi.
“Kenapa lagi ini…”
Ardi turun untuk melihat situasi di depan.
Tak lama kemudian ia kembali sambil berlari kecil.
“Pak… ada longsor kecil.”
Pak Roni langsung turun dari truk.
Benar saja.
Tanah dan batu dari tebing kecil menutupi sebagian badan jalan. Tidak terlalu besar, namun cukup membuat kendaraan besar sulit lewat.
Beberapa warga sekitar dan pengendara terlihat mulai berusaha membersihkan material longsor secara manual.
Hujan semalam ternyata membuat tanah menjadi labil.
Pak Roni melihat jam di tangannya.
Waktu mulai mepet.
Jika terlambat terlalu lama, pengecoran proyek bisa gagal dilakukan hari itu.
Tanpa banyak bicara, ia langsung ikut membantu memindahkan batu bersama warga lain.
Ardi juga ikut bekerja sambil sesekali menyeka keringat.
Suasana berubah sibuk.
Suara cangkul, batu bergeser, dan instruksi warga bercampur menjadi satu.
Hampir satu jam berlalu sampai akhirnya satu jalur kecil berhasil dibuka.
Kendaraan mulai bergerak perlahan satu per satu.
Ketika truk mereka mendapat giliran lewat, semua orang terlihat memperhatikan dengan tegang.
Jalan yang tersisa sangat sempit.
Di sisi kiri langsung mengarah ke jurang kecil dekat pantai.
Pak Roni memegang setir erat.
Ardi turun membantu memberi aba-aba.
“Pelan, Pak… kiri sedikit… aman…”
Ban belakang truk sempat tergelincir sedikit di tanah basah.
Jantung Ardi langsung terasa berhenti sesaat.
Namun perlahan kendaraan berat itu akhirnya berhasil melewati jalur sempit tersebut.
Beberapa warga langsung bertepuk tangan kecil.
Pak Roni hanya mengangkat tangan sambil tersenyum lega.
Proyek Kecil di Pinggir Laut
Menjelang siang mereka akhirnya tiba di lokasi proyek dekat pesisir Amed.
Tempat itu ternyata berada tepat di dekat pantai dengan pemandangan laut terbuka.
Beberapa pekerja proyek langsung menyambut kedatangan truk dengan wajah lega.
Mandor proyek bahkan terlihat hampir berlari menghampiri.
“Syukurlah datang juga, Pak! Kami pikir gak jadi sampai.”
Ternyata sejak pagi para pekerja sudah menunggu sambil menahan proses pengecoran.
Jika wiremesh tidak datang hari itu, seluruh jadwal pekerjaan bisa mundur beberapa hari karena cuaca buruk diperkirakan kembali datang malam nanti.
Proses bongkar dilakukan cepat.
Suara besi wiremesh bergesekan terdengar nyaring di tengah suara ombak pantai.
Ardi duduk di pinggir truk sambil memperhatikan para pekerja membawa material ke area pengecoran.
Ia lalu berkata pelan,
“Baru sekarang saya ngerti kenapa pengiriman material itu penting banget.”
Pak Roni tersenyum sambil menyalakan rokoknya.
“Kalau material telat, banyak orang ikut berhenti kerja.”
Ardi mengangguk pelan.
Ia baru sadar bahwa di balik lembaran wiremesh yang terlihat sederhana, ada banyak proses yang saling terhubung.
Mulai dari proyek jalan, pekerja bangunan, sopir truk, gudang material, hingga masyarakat yang nantinya menggunakan hasil pembangunan tersebut.
Senja di Ujung Timur Bali
Sore mulai turun ketika pekerjaan selesai.
Langit Karangasem berubah jingga.
Pantulan cahaya matahari terlihat indah di permukaan laut.
Pak Roni berdiri di dekat truk sambil memandang horizon.
Tubuhnya memang lelah.
Tangannya masih terasa pegal akibat membantu membersihkan longsor tadi siang.
Namun ada rasa puas yang sulit dijelaskan.
Perjalanan panjang dari Surabaya menuju Jembrana, Karangasem, hingga pesisir Amed akhirnya berhasil diselesaikan.
Ardi mendekat sambil membawa dua gelas kopi dari warung kecil dekat proyek.
“Pak… setelah ini pulang?”
Pak Roni menerima kopi itu sambil tersenyum kecil.
“Pulang dulu sebentar.”
“Sebentar?”
“Iya. Biasanya habis satu perjalanan, sudah ada perjalanan lain yang nunggu.”
Ardi tertawa pelan.
Suara ombak terus terdengar memecah pantai.
Sementara truk besar itu berdiri diam di bawah langit senja Bali, seolah ikut menjadi saksi betapa panjang dan berat perjalanan sebuah pengiriman material proyek.
Dan bagi Pak Roni, jalanan panjang seperti itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.


Posting Komentar